Pilihan Redaksi, SUMEDANG

Kirab Panji dan Mahkota Sumedang Larang, Tradisi Meriahkan Hari Jadi Sumedang

Penulis: Fitriyani Gunawan | Editor: Fitriyani Gunawan
Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir saat menerima Panji Sumedang Larang. Selasa, 17 Mei 2022.
Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir saat menerima Panji Sumedang Larang. Selasa, 17 Mei 2022. | FOTO: Dok. Via Humas Setda Sumedang

SUMEDANG ONLINE – Setelah sempat tidak dilaksanakan selama dua tahun karena adanya pandemi Covid-19, Kirab Panji dan Mahkota Karaton Sumedang Larang kembali digelar.

Kegiatan ini dilaksanakan sekaligus untuk memeringati hari jadi ke-444 Sumedang. Kirab panji tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, jika tahun sebelumnya digelar dengan jalan kaki dari Darmaraja menuju Cisitu, kemudian dari Cisitu-Situraja, dari Situraja ke Ganeas dan dari Ganeas ke Tegalkalong, dari Tegalkalong ke Srimanganti. Maka, tahun ini kirab panji digelar dengan pengetatan dari kepolisian, dan para peserta tidak boleh jalan kaki alias harus menaiki kendaraan.

Puncak acara prosesi adat Kerajaan Sumedang Larang ini dipusatkan di Alun-Alun Sumedang kemudian ke Srimanganti, Sumedang.

“Kirab Panji ini merupakan rangkaian peringatan hari jadi ke-444 Sumedang dan tradisi perjalanan napak tilas dari cikal bakal Sumedanglarang di Darmaraja.,” tutur Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. Selasa, 17 Mei 2022.

Baca Juga  Kecamatan Paseh Peringati Milangkala ke-36

Salah satu tokoh Adat Darmaraja Hadi Barkah menyebutkan, Kirab Panji Sumedang Larang merupakan sebuah tradisi perjalanan napak tilas leluhur Sumedang dari Kerajaan Tembong Agung di Darmaraja ke Himbar Buana yang kemudian menjadi Sumedang Larang.

Napak tilas ini dilakukan sebagai upaya rekontruksi sejarah dalam proses pewarisan kepada generasi penerus Sumedang. Hal ini dilakukan setiap Hari Jadi Sumedang yang saat ini sudah menginjak usia ke 444.

“Kirab Panji tahun ini sejatinya merupakan momentum dalam hal menggali, mengenal serta memahami sejarah berdasarkan naskah naskah literasi, foklore dan nilai-nilai yang ada dan terjaga turun temurun dalam hal adat istiadat,” katanya kepada Sumeks beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Satu Warga Sumedang Terindikasi Covid-19 Wafat

Dalam hal ini, pihaknya berharap momen tersebut terus dipertahankan sebagai sejarah mutlak yang harus diedukasi kepada generasi-generasi penerus.

“Saya harap kegiatan ini mengandung edukasi untuk masyarakat. Agar, mereka benar-benar tahu sejarah,” imbuhnya. ***

Source: SUMEDANG ONLINE

Tinggalkan Balasan