Sumedang, 22 Mei 2025 – Di bawah langit cerah Sumedang, aula pertemuan yang penuh sesak oleh ratusan orang hari itu bukan sekadar tempat bersua. Lebih dari itu, menjadi saksi sejarah – di mana sebuah tongkat kepemimpinan diserahkan, amanah dijalankan, dan arah baru sebuah organisasi budaya besar ditata ulang. Di sinilah, Paguyuban Pasundan Cabang Sumedang menyelenggarakan Gempungan – pertemuan akbar penuh makna yang menggema hingga ke pusat organisasi nasionalnya.
Hari itu, Asep Kurnia, SH., MH., lelaki yang telah mengomandoi Paguyuban Pasundan Sumedang selama satu dekade, menyampaikan pidato perpisahan dengan nada tenang, penuh kebijaksanaan. Dikenal luas sebagai politisi aktif yang kini menjabat sebagai Ketua Fraksi sekaligus Ketua Komisi I DPRD Sumedang, Asep menyerahkan estafet kepemimpinan kepada tangan yang ia nilai layak: Apip Hadi Susanto, sekretaris cabang sekaligus motor penggerak acara Gempungan.
“Ini bukan serta-merta. Melainkan hasil musyawarah anak cabang. Banyak yang meminta saya melanjutkan, namun karena tugas di DPRD, saya serahkan mandat ini kepada Apip,” tutur Asep di hadapan para sesepuh, tokoh masyarakat, dan kader muda Pasundan.
Dari Rakyat untuk Rakyat: Membangun dari Akar
Namun acara ini tidak hanya tentang siapa memimpin. Lebih luas, ini adalah tentang bagaimana organisasi tradisi-budaya raksasa seperti Paguyuban Pasundan dapat menyatu dengan denyut nadi masyarakat – bahkan hingga ke desa-desa. Gempungan menjadi titik tolak pembentukan 277 ranting desa dan 26 Pimpinan Anak Cabang (PAC) yang tersebar di seluruh Sumedang.
Bagi Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. Didi Turmudzi, pencapaian ini luar biasa. Bahkan belum ada yang menyamai di seluruh Indonesia.
“Paguyuban Pasundan Cabang Sumedang telah menunjukkan bagaimana organisasi bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Ini contoh konkret. Kita butuh karakter pemberani, pejuang, petarung – yang akan membawa budaya ini tetap hidup dan relevan,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan meriah.
Apip: Wajah Baru, Semangat yang Sama
Apip Hadi Susanto kini menjadi nahkoda baru untuk periode 2025–2030. Dalam sambutannya, ia tidak menampilkan ambisi kosong, tetapi janji sederhana: melanjutkan yang telah dimulai dan memperkuat yang belum sempurna.
Fokusnya jelas. Organisasi yang kuat memerlukan struktur yang solid, loyalitas tinggi, dan kinerja nyata. Salah satu prioritas utama Apip adalah penguatan jaringan pendidikan Pasundan – SMA dan SMK – sebagai benteng masa depan budaya dan nilai Sunda.
Budaya, Pendidikan, dan Spirit Keagamaan
Di balik gemerlap pertemuan besar, jejak kontribusi Paguyuban Pasundan Sumedang selama ini terlihat nyata. Mereka telah mendorong pelestarian Tari Umbul, seni tradisi yang langka. Mereka memberi beasiswa kepada sembilan siswa SD dari berbagai kecamatan, serta bantuan pendidikan kepada anak-anak keluarga anggota Paguyuban.
Di ranah spiritual, program Dzikir, Mikir, Ngukir – sebuah integrasi antara penguatan iman, intelektualitas, dan kreativitas – telah menjadi kegiatan unggulan yang akan terus dijaga oleh kepemimpinan baru.
“Kami siap berkonsultasi dengan PB. Kami tidak ingin hanya besar di nama, tapi juga di aksi dan kontribusi,” ucap Apip mantap.
Momentum yang Lebih dari Sekadar Seremonial
Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat, hadir pula tokoh Jawa Barat H. Umuh Muchtar, Muspika Jatinangor, dan jajaran militer seperti Dandim Sumedang. Mereka tak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari kolaborasi lintas sektor yang dibutuhkan oleh organisasi budaya seperti Paguyuban Pasundan.
Di akhir acara, sorak-sorai bukan hanya karena sebuah nama baru diumumkan. Tapi karena seluruh hadirin merasakan bahwa hari itu bukan hanya soal pergantian posisi, tetapi tentang kesinambungan warisan, dan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
“Ngajaga Lembur, Nata Kota, Merangan Bodo jeung Kokoro”
Moto Paguyuban Pasundan ini kembali digaungkan. Sebuah pengingat bahwa menjaga tradisi, mengatur masa depan, dan melawan ketidaktahuan adalah panggilan yang lebih besar dari sekadar jabatan.
Dan Gempungan 2025 ini, telah menjawab panggilan itu. ***


















