ISTIMEWA/SUMEDANG ONLINE

Budi Tewas, di Pabrik Heuleur MJ

Tete, mengaku tidak mengetahui persis penyebab kecelakaan karyawanya, yang tewas akibat terseret fan belt heuleur MJ di Cisitu, pukul 18.30, Rabu (4/4).

CISITU – Budi (28), buruh pabrik heuleur Mulya Jaya (MJ), warga Desa Tamansari, Kecamatan Cibugel, tewas setelah mendapat perawatan di RSU Sumedang, sekitar pukul 18.30, Rabu (4/4). Akibat luka berat di bagian belakang kepala.
Keterangan dihimpun Sumeks, menyebutkan korban yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun di pabrik itu, diduga hendak membenarkan fan belt (sabuk) mesin yang terlepas, sementara 4 kawan lainnya berada pada posisi dan pekerjaan masing-masing.
“Ketika posisi mesin sedang jalan, tiba-tiba fan belt terlepas, korban kemudian hendak membenarkan kembali fanbelt tersebut, tapi entah terpeleset atau gimana saya juga kurang tahu, karena tidak ada yang melihat langsung,” ujar Tete Daniman (31), pengelola pabrik heuleur MJ ditemui Sumeks di Mapolsek Cisitu, sebelum dimintai keterangan pihak kepolisian, Kamis (5/4).
Sebelumnya, Tete, sempat bertemu dengan korban pukul 16.15, saat itu korban terlihat sedang makan, karena dia tengah makan, Tete pun mengurungkan niatnya untuk mengajak ngobrol korban. Selang 15 menit setelah dia masuk ke rumahnya, tiba-tiba di luar terdengar suara ribut.
“Tidak ada yang melihat persis kejadiannya seperti apa, bahkan saya pun sebelum kejadian itu sempat mengontrol dan melihat dia sedang makan. Tapi dia sempat ngobrol dengan kakak saya, kata kakak saya, dia sharing tentang masalah beras. Saya masuk ke rumah, 15 menit kemudian terdengar suara ribut di luar, kemudian ada pegawai saya yang memberi tahu jika Budi mengalami kecelakaan,” lanjutnya.
Namun begitu Tete, melihat keluar, korban sudah diantar rekan kerjanya ke Klinik 24 jam di Situraja. Karena lukanya serius, korban pun oleh pihak Klinik dirujuk ke RSU Sumedang. “Pas saya keluar, Budi, sudah dibawa ke klinik 24 jam, kemudian karena klinik tidak sanggup, mereka merujuk ke RSU Sumedang,” ujarnya.
Dari keterangan rekan kerjanya ke Tete, adalah Ade kakak ipar korban, yang kali pertama menemukan Budi sudah terkapar, mereka dikatakan Tete, tidak mendengar suara teriakan apa pun, jika saja Ade yang saat itu berada di panggung heuleur tidak turun untuk membantu menimbang gabah.
“Gak terdengar suara teriakan, mungkin kasilep ama suara bising dari mesin,” imbuhnya.
Lanjutnya, ia tidak sempat mengantar Budi ke RSU Sumedang, Tete, lebih memilih untuk menjemput keluarga korban di Desa Tamansari, Kecamatan Cibugel. Bahkan, saat adanya kabar kematian Budi pun, Tete masih berada dalam perjalanan bersama keluarga Budi menuju RSUD Sumedang.
Sementara itu, beberapa pekerja di pabrik heuleur MJ ketika dimintai keterangan oleh Sumeks, semuanya tutup mulut. Mereka hanya berkilah saat kejadian tidak masuk kerja, bahkan ada yang bilang, jika pabrik dalam posisi off.
“Saya pas kejadian tidak ada di sini, kang. Saya sedang ke Bandung,” ujar salah seorang pegawai sambil berlalu.
Aparat Desa Situmekar pun, hingga Kamis (5/4), belum mendapatkan laporan resmi dari pihak perusahaan, sehari sebelumnya Pihak Polsek Cisitu pun sempat mengkonfirmasi kejadian itu. Namun pihak desa hanya sebatas mengiyakan adanya musibah tersebut.
Di Mapolsek Cisitu pun hal serupa terjadi, aparat kepolisian sebelumnya, mengaku baru sebatas mengetahui kejadian itu. Apalagi, pengelola heuleur MJ baru membuat laporan polisi (LP) sekitar pukul 10.00, Kamis (5/4).  Kapolres Sumedang AKBP Eka Satria Bhakti melalui Kapolsek Cisitu, Ipda Bambang Sulihno, mengatakan sejauh ini pihaknya masih mendalami kasus tersebut. “Kasusnya masih dalam proses lidik kami, karena pihak perusahaannya saja baru datang sekarang untuk dimintai keterangan,” ujar Bambang.(ign)