Opini  

Kabaret Asal-Usul Penamaan Jalan Mayor Abdurahman & Sebelas April

 /SUMEDANGONLINE
Patung Kuda Renggong Samoja

TAK banyak orang yang tahu apalagi yang bukan asli dari Sumedang, tentang asal-usul Jalan Raya yang kini dinamakan “Jalan Mayor Abdul Rahman Sumedang”. Jalan tersebut melintang dari Jembatan Cipeles (Pasific) hingga Cimayor.

Sementara dari Jembatan Cipeles sampai Patung Kuda, di daerah Samoja, Kecamatan Sumedang Selatan  dinamakan “Jalan Pangeran Kornel”. Penamaan jalan ini, untuk mengingatkan kisah pembuatan jalan Cadas Pangeran pada masa Daendales yang melintang dari Anyer hingga Panarukan, sejarah mencatat dengan gigihnya, Pangeran Koesoemah Dinata IX / Raden Jamoe (Pangeran Kornel), Bupati Sumedang yang lahir Tahun 1791 dan wafat Tahun 1928 dan dimakamkan di Gunung Ciung Makam Pasarean Gede Sumedang, melindungi rakyatnya dari kekejaman kerja Rodi pada masa pemerintahan VOC.

Sepenggal Kabaret yang diperankan Kodim 0610 Kabupaten Sumedang dalam asal-usul Penamaan Jalan Mayor Abdu rahman Sumedang yang melintang dari Cimayor hingga Jembatan Cipeles Sumedang, sebagai pengingat gugurnya pahlawan Nasional Kabupaten Sumedang dalam mempertahankan kembali Negara Kesatuan Republik (NKRI) di Sumedang, beliaa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cimayor kabupaten Sumedang.

Jangan lupakan jasa para pahlawan sejarah Negeri ini, yang gugur di medan perjuangan laga, baik di batu nisan tertulis dan tidak tertulis yang begitu tulusnya mereka-mereka dalam memperjuangkan hak-hak rakyat dan wilayahnya dan kemerdekaan dan Kesatuan Negara RI tercinta ini. ~ Al Fatihah

SELANJUTNYA: Sejarah Heroik Pangeran Kusumah Dinata IX (Pangerang Kornel)Sejarah Heroik Pangeran Kusumah Dinata IX (Pangerang Kornel)

PANGERAN Kusumah Dinata IX lahir pada tahun 1762 dengan nama Surianagara III, putra dari pasangan Adipati Surianagara II (bupati Sumedang tahun 1761-1765) dan Nyi Mas Nagakasih. Semasa kecilnya beliau dikenal dengan nama Raden Djamu.

Pada saat ayahnya meninggal di tahun 1765, diangkatlah bupati penyelang / sementara karena Raden Djamu masih balita belum bisa naik tahta menjadi Bupati Sumedang. Baru pada tahun 1791, Raden Djamu alias Surianagara III diangkat menjadi Bupati Sumedang dengan gelar Pangeran Kusumadinata IX (memerintah tahun 1791–1828)

Cadas Pangeran merupakan salah satu jalan raya sepanjang tiga kilometer penghubung Sumedang dengan wilayah Bandung yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) pada Tahun 1809.

Peristiwa Cadas Pangeran ini merupakan sebuah tindakan perlawanan simbolik atau protes dari Bupati Sumedang ketika itu, Pangeran Kusumadinata IX (1791 – 1828), ambisi dari Gubernur Jendral Herman Willem Daendels yang berniat untuk membangun jalan dari Anyer ke Panarukan. Pangeran Kusumadinata IX atau yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Kornel sangat kesal karena melihat rakyatnya diperlakukan seenaknya oleh Gubernur Jendral Daendels.

Seperti yang diceritakan oleh para sesepuh Sumedang, peristiwa Cadas Pangeran berasal dari pertemuan Pangeran Kusumadinata IX atau disebut juga Pangeran Kornel dengan Gubernur Daendels ditengah berlangsungnya proses pembangunan jalan raya tersebut. Diceritakan, Pangeran Kusumadinata IX melakukan jabat tangan dengan sang Gubernur menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan sang pangeran kornel ini siap dengan memegang keris pusaka. Tindakan tersebut membuat Daendels sangat terkejut.

SELANJUTNYA: Peristiwa Heroik Jalan Cadas PangeranPeristiwa Heroik Jalan Cadas Pangeran

PERISTIWA heroik ini diabadikan secara visual pada sebuah patung di pertengahan jalur Bandung-Sumedang. Peristiwa ini juga yang kini dijadikan nama jalan tersebut, yakni Jalan Cadas Pangeran.

Jadi, istilah Cadas Pangeran bagi sebagian kalangan mengartikan watak keras atau ‘cadas’ dari sang Pangeran Sumedang. Namun ada pula arti lainnya, yaitu daerah tersebut memang memiliki areal yang berbukit cadas. Bukit cadas itulah yang diubah menjadi bagian dari jalur yang membangun jalan Daendels tersebut. Pekerjaan itu lah yang merubah sebuah bukit Cadas yang berliku-liku dan terjam menjadi jalan Raya yang mendatangkan penderitaan hebat bagi rakyat Sumedang, yang direkrut menjadi pekerja paksa (rodi) dan memicu kemarahan Pangeran Kusumadinata IX selaku penguasa Sumedang.

Selain memprotes, Pangeran Kornel juga menantang Gubernur Daendels bertarung satu lawan satu. Pangeran Kornel berkata bahwa dirinya adalah selaku Adipati/Bupati Sumedang lebih berjuang dan berkorban sendiri daripada harus mengorbankan seluruh rakyat Sumedang. Mendengar hal tersebut, Daendels pun terpaksa merubah siasatnya. Daendels pun berjanji pada sang Pangeran bahwa tentara Zeni Belanda lah yang akan mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan. Sedangkan rakyat Sumedang dipersiapkan untuk tenaga cadangan saja.

Namun, Daendels tengah bermuslihat. Beberapa hari kemudian, Gubernur yang sangat kejam dan oleh rakyat jawa dijuluki dengan ‘Mas Galak’ tersebut membawa ribuan pasukan Belanda dengan tujuan untuk menumpas perlawanan dari Pangeran Kornel dan rakyat Sumedang.

Rakyat Sumedang dibawah pimpinan Pangeran Kornel beserta segenap pembesar Sumedang lainnya melawan dengan gigih dan semangat juang yang tinggi tentang penindasan Belanda tersebut. Karena kekuatan Belanda yang tangguh dan kurangnya persenjataan dari rakyat sumedang itu sendiri, akhirnya pemberontakan Pangeran Kornel berhasil dikalahkan. Pangeran Kornel dan ratusan rakyat Sumedang gugur dibantai oleh pasukan Belanda. (Ditulis Ulang Kang Dedi Sumamiharja)

Halaman: 1 2 3 Lihat Semua
Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak