21 Agu 2018 14:45 WIB | PENULIS: Fitriyani Gunawan | EDITOR: Redaksi
ISTIMEWA/SUMEDANG ONLINE

SUMEDANG ONLINE – Sejumlah warung di sepanjang jalan raya Paseh-Tomo yang disinyalir menyediakan Pekerja Seks (PS) atau diduga menjadi tempat esek-esek, disambangi petugas dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Sumedang, Senin (20/8/2018) malam.

Tim yang terdiri dari 11 orang
saat itu, bukanlah untuk merazia warung remang seperti yang biasa dilakukan, melainkan guna melakukan pendekatan dengan para perempuan yang ditengarai berprofesi sebagai Pekerja Seks, agar mau mengikuti program pendidikan dan pelatihan yang diinisiasi oleh Dinas Sosial P3A Kab. Sumedang.

Sebagaimana diungkapkan Kabid Rehabilitasi Sosial pada Dinsos P3A Kab. Sumedang, Ali Nurjaman, maksud kedatangan dirinya beserta tim adalah guna mendata sekaligus mengajak kepada para Pekerja Seks untuk mau mengikuti program diklat seperti halnya keahlian dalam merias pengantin, menjahit, tataboga dan keahlian khusus wanita lainnya.

“Ya, kalau biasanya kita bersama Satpol PP melakukan razia operasi gabungan terhadap warung remang-remang dengan sebutan ‘penjangkauan’, namun kali ini kita coba menggunakan metode berbeda yaitu dengan meng-assessment atau melakukan pendekatan terhadap pemilik warung maupun yang diduga berprofesi Pekerja Seks sehingga mau mengikuti program ini (diklat),” ungkapnya.

Kegiatan yang dilakukan jajaran Dinsos P3A kali itupun rupanya tidak sia-sia. Pasalnya, apa yang dilakukan tim tanpa adanya usaha merazia, sedikitnya meminimalisir kekhawatiran baik dari pemilik warung maupun beberapa perempuan yang kedapatan berada di dalam warung.

Merekapun merespon positif kedatangan tim Dinsos P3A dan mampu komunikatif. Kendati demikian, banyak juga diantara mereka yang memilih bungkam atau pura-pura menghindar saat diajak berkomunikasi.

Dari keterangan salah seorang pemilik warung yang dikunjungi saat itu, dirinya mengaku apabila kini mereka jarang ‘menyediakan’ Pekerja Seks di warungnya.

Biasanya, para Pekerja Seks baru mereka hubungi melalui telepon seluler apabila memang sudah ada ‘tamu’ yang meminta jasa mereka.

“Terus terang saat ini istilahnya tidak ada yang mangkal di warung kami. Kalaupun ada, keberadaannya tidak tentu karena memang kebanyakan mereka bukan asli orang sini (Sumedang),” tutur salah seorang pemilik warung di sekitar jalan raya Paseh yang tak mau disebutkan namanya.

Terkait niat dari jajaran Dinsos P3A yang ingin memberi keterampilan melalui diklat, pemilik warung pun berjanji akan membantu menyampaikannya kepada yang bersangkutan, dan akan berupaya mendukung program pemerintah tersebut.

Sementara itu, dikatakan Ali, apabila para Pekerja Seks yang berada di wilayah Pemkab Sumedang telah bersedia untuk mendapatkan pelatihan keterampilan, maka mereka akan disuruh memilih untuk mendapatkan keterampilan dengan cara dikirim ke panti rehabilitasi Palimanan Cirebon, ataupun bisa dibina di lingkungan Pemkab Sumedang.

“Ya, apabila mereka (PS) bersedia mendapatkan pelatihan keterampilan, bisa dengan cara mengikutinya (diklat) di Palimanan ataupun kita lakukan di sini (Sumedang) dengan mendatangkan para pelatih sesuai dengan kebutuhan yang dikehendakinya,” ujarnya.

Ditambahkan Ali, bahwa apabila pihaknya berhasil memberi persepsi positif tentang pentingnya memiliki keterampilan yang didapat dari diklat, maka diharapkan akan memberi manfaat bagi kehidupan para Pekerja Seks di masa yang akan datang.

“Semoga melalui pembinaan mental dan moral baik di tempat rehabilitasi maupun yang akan kita lakukan di sini, kelak mereka dapat mencari pekerjaan positif . Apalagi kan tak hanya dibina moral dan mentalnya saja, melainkan juga diberikan pelatihan kerja, seperti menjahit, merias pengantin, membuat kerajinan tangan atau kuliner sehingga mereka punya keahlian khusus,” imbuhnya.

Diakui Ali, apabila pendekatan kepada para Pekerja Seks dengan cara melakukan assessment seperti yang ia lakukan saat ini adalah merupakan yang pertama kalinya.

Dirinya berharap, kegiatan yang dilakukannya akan lebih efektif dibandingkan dengan cara merazia para Pekerja Seks yang lalu dikirim ke panti rehabilitasi, karena melalui upayanya saat ini, para PS ini tentunya tidak dalam keadaan terpaksa dan akan dengan ikhlas dalam hal mengikuti kegiatan pelatihan.

“Kita baru mengubah pola dari yang biasanya melalui razia dan sekarang melalui cara assessment. Mudah-mudahan dengan ini (assessment) dapat lebih berhasil walaupun tentu dalam pelaksanaannya kita juga tetap koordinasi dengan berbagai pihak termasuk dengan pihak kecamatan terkait,” ucapnya.

Saat ditanya target, dirinya pun menyebutkan apabila ke depan, seluruh Pekerja Seks yang berada di wilayah Pemkab Sumedang harus mendapatkan pelatihan keterampilan, sehingga lambat laun mereka akan meninggalkan pekerjaannya untuk beralih profesi ke bidang yang positif, tutupnya. (Iwan)

Install SUMEDANGONLINE MOBILE
| Advertorial