Tiga Kecamatan di Sumedang Masih Tinggi Angka Stunting

Tiga kecamatan di Kabupaten Sumedang diketahui masih menempati angka tertinggi stunting dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang. Hal itu terungkp saat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang melaksanakan giat Publikasi dan Ekspose Stunting di Saphire City Park Rancapurut Sumedang. Jumat, 19 November 2021.
Iwan Rahmat/SUMEDANGONLINE
Tiga kecamatan di Kabupaten Sumedang diketahui masih menempati angka tertinggi stunting dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang. Hal itu terungkp saat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang melaksanakan giat Publikasi dan Ekspose Stunting di Saphire City Park Rancapurut Sumedang. Jumat, 19 November 2021.

SUMEDANGONLINE, Dinkes – Tiga kecamatan di Kabupaten Sumedang diketahui masih menempati angka tertinggi stunting dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang. Hal itu terungkp saat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang melaksanakan giat Publikasi dan Ekspose Stunting di Saphire City Park Rancapurut Sumedang. Jumat, 19 November 2021.

Ketiga kecamatan itu menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Uyu Wahyudin yakni Kecamatan Wado, Jatinunggal dan Cibugel.

“Tiga kecamatan diantaranya Wado, Jatinunggal, dan Cibugel pada tahun 2021 ini menempati angka stunting, pertumbuhan tinggi anak tidak normal atau lebih pendek dari anak seusianya, tertinggi dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang,” ujar Uyu dalam keterangannya dihadapan para wartawan.

Lebih lanjut dia menyebutkan untuk Kecamatan Cibugel terdapat 360 balita dengan 22,43 persen, Kecamatan Wado sebanyak 531 balita dengan 20, 27 persen, dan Jatinunggal, 599 balita dengan 22,45 persen.

Dikatakan Uyu, penyebab terjadinya stunting dipengaruhi paling dominan oleh pola asuh, asupan gizi, dan pemberian ASI exlusif, juga pemeriksaan kesehatan dari bayi tersebut.

“Pola asuh ini berhububungan erat dengan kebiasaan dan pola kehidupan yang berlaku dimasyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap kepada orangtua dapat terus memantau dari upaya tumbuh kembang dari seorang bayi terutama pola asuh juga asupan gizinya.

Senada dikatana Nia Sukaeni selaku Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, menurutnya sangat kecil sekali stunting disebabkan oleh faktor keturunan, karena pengaruh dominan dari stunting, yaitu pola asuh dan asupan gizi, kekurangan garam beryodium juga bisa berpengaruh ke BBLR (Berat Badan lLahir Rendah).

“Karena itu orangtua harus terus memantau dari upaya tumbuh kembang dari seorang bayi” tandasnya. ***

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak