Jeddah, 23 Mei 2025 — Di tengah gegap gempita penyambutan jemaah haji Indonesia yang tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, ada satu sisi tak terlihat yang justru menjadi penopang utama kelancaran perjalanan suci ini: kerja sunyi para petugas layanan bagasi.
Di bawah terik mentari siang atau dinginnya malam gurun, para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Sektor Bandara terus berjibaku. Tak sekadar memindahkan koper, mereka memikul tanggung jawab memastikan ribuan barang pribadi jemaah tiba dengan selamat dan tepat di Makkah.
Imam Solihin, salah satu petugas layanan bagasi, bersama tiga petugas musiman yang merupakan mahasiswa Indonesia di Jeddah, menjadi garda terdepan dalam rantai distribusi logistik ini. “Keselarasan antara koper dan manifes jadi prioritas. Jangan sampai ada koper yang tertinggal atau salah kirim,” ujarnya.
Tiap harinya, tak kurang dari 19 truk diberangkatkan mengangkut koper besar-kecil, kursi roda, hingga tongkat milik jemaah. Semua bergerak dalam sistem ketat yang dirancang Kementerian Haji Arab Saudi.
Namun tak semua berjalan mulus. Asep Sodiqin, petugas lainnya, mengungkap tantangan khas di Bandara Jeddah. “Kami hanya bisa menunggu di luar area bagasi. Kadang koper keluar sangat terlambat. Kami harus siap kapan pun,” katanya sambil menghitung koper dengan alat digital.
Di balik layar, pencocokan data berlangsung dua lapis—digital dan manual. Arfan Rasul, petugas pencatat, menjelaskan pentingnya verifikasi ganda. “Kalau datanya tidak cocok, kami telusuri sampai ketemu. Ini bukan sekadar koper, ini kenyamanan dan ketenangan jemaah,” katanya.
Menurut Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, operasional bagasi dibagi dalam tiga sektor dan tiga shift penuh. “Koordinasi adalah kunci. Semua laporan dikirim ke Daerah Kerja Makkah. Tujuannya jelas: koper sampai, jemaah tenang,” tegasnya.
Di tengah sorotan kamera dan gema takbir penyambutan, para petugas bagasi ini tetap bekerja dalam diam. Mereka bukan wajah yang tampak di foto-foto media, namun berkat dedikasi mereka, setiap jemaah bisa melangkah ke Tanah Suci tanpa beban di pundak—karena sudah ada yang memanggulnya untuk mereka. ***
