Menu

Mode Gelap

SENI DAN BUDAYA · 14 Jul 2010 11:10 WIB

ADAT NGALAKSA di RANCAKALONG

Reporter: Admin | Editor: Admin


 ADAT NGALAKSA di RANCAKALONG Perbesar

Upacara Adat Ngalaksa sudah rutin dilakukan setiap tahun yakni setiap tanggal 13 Juli.  Seperti Selasa 13 Juli 2010 kemarin, Adat Ngalaksa berlangsung meriah di Desa Adat Rancakalong.  Acara lain dari tanggal 14 sampai tanggal 17 Juli 2010 nanti yaitu Sajian Satu Paket Upacara Adat Ngalaksa terdiri dari mesel atau menumbuk padi, ngisikan atau membersihkan berasm nipung atau membuat tepungm ngadonan, membungkus jeung ngulub atau merebus.  Setelah jadi laksa dibagi bagikan kepad warga dan tamu undangan.  Semua rangkaian acara itu selalu diiringi musik tarawangsa.

Bupati Sumedang dalam kesempatan membuka kegiatan adat ngalaksa kemarin di Rancakalong mengatakan harus tetap terpelihara sebagai adat kebiasaan turun temurun  bagian dari budaya yang wajib dilestarikan, terlebih Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda.

Dalam sejarahnya Adat Ngalaksa merupakan warisan leluhur dimana jaman dulu, masyarakat Rancakalong yang kehidupannya bertani mengalami musibah, karena tanaman padinya tidak dapat dipanen.  Mereka dilanda paceklik sedangkan penanaman padi kembali tidak mempunyai bibit untuk ditanam karena habis di konsumsi rakyat.

Untuk mencegah terjadinya kelaparan, maka sesepuh atau tokoh masyarakat Rancakalong memutuskan agar masyarakat menanam Hanjeli sebagai pengganti padi yang ternyata  berhasil dipanen dengan melimpah.

Suatu ketika terjadi malapetaka, seorang anak meninggal dalam gudang terimbun hanjeli, sesepuh atau tokoh masyarakat di saja memutuskan untuk tidak lagi menanam hanjeli dan masyarakat agar kembali menanam padi.

Konon bibit padi pada waktu itu hanya ada di Mataram dan untuk mendapatkannya sangat sulit.  Karena ada larangan dari penguasa Mataram bahwa Padi tidak boleh di bawa keluar wilayah Mataram terutama ke wilayah Padjadjaran.

Untuk mendapatkannya Sesepuh rancakalong mengutus Embah Reguna dan Embah Wira Ngara untuk berangkat ke Mataram, berkat kecerdikannya mengelabui petugas Mataram dimana mereka menyamar sebagai seniman jentreng maka keduanya berhasil membawa bibit padi ke dalam jentreng (kecapi) dan sejak itulah masyarakat rancakalong dapat kembali menanam padi.

Artikel ini telah dibaca 19 kali

Baca Lainnya

Grup Simpay Panaratas Tandang ke Prancis Bawa Misi Kebudayaan Nasional Indonesia

8 November 2023 - 22:01 WIB

Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Kepemudaan dan Olaharaga Kabupaten Sumedang melepas rombongan Simpay Panaratas Gus To De Prancis. Rombongan yang membawa misi memperkenalkan kesenian Indonesia di Prancis, di lepas Nandang Suparman di Kantor Dinas Pariwisata Budaya Kepemudaan dan Olaharaga Kabupaten Sumedang. Rabu, 8 November 2023.

Tari Kolosal Seniman Sumedang Bikin Kagum Presiden Joko Widodo

18 Februari 2023 - 14:30 WIB

Seniman Sumedang saat unjuk kabisa di depan Presiden Joko Widodo.

Audensi dengan Bupati, HAPMI Kabupaten Sumedang Agendakan Gelar Pagelaran Seni di GIM

16 Februari 2023 - 18:54 WIB

Himpunan Artis Penyanyi dan Musisi Indonesia (HAPMI) Kabupaten Sumedang saat melakukan audensi dengan Bupati Sumedang. Rabu, 15 Februari 2023.

Tim Tari Umbul SMPN 1 Sumedang Meriahkan Pembukaan Liga Pelajar Tingkat SLTP

12 Januari 2023 - 21:19 WIB

Tim tari umbul SMPN 1 Sumedang turut andil saat Pembukaan Liga Pelajar Tingkat SLTP di Stadion Ahmad Yani, Sumedang. Kamis, 12 Januari 2023.

Adanya Geo Theater Rancakalong, Para Petani Ketiban Rezeki

10 Januari 2023 - 21:41 WIB

Perkebunan di sekitar Geo Theater Rancakalong Sumedang.

Tarik Wisatawan, Bupati Sumedang Berharap Setiap Hari Geo Theater Ada Tampilan Atraksi Seni

9 Januari 2023 - 21:54 WIB

Geo Theater Rancakalong Sumedang
Trending di Pilihan Redaksi