Home / FEATURE & OPINI

Kamis, 13 Desember 2012 - 09:01 WIB

Syaembara Melak Paré, Budaya Buhun Padi Organik



BAGI petani dan budayawan Situraja, momentum angka sakral 12-12-12 dijadikan momentum pencatatan sejarah dengan mulai menanam padi orgnik. Berikut catatannya.

IGUN GUNAWAN – Situraja,

Ritual syaembara melak paré dumasar papagon buhun di Padepopan Sunda Mekar, Situraja.

Ritual syaembara melak paré dumasar papagon buhun di Padepopan Sunda Mekar, Situraja.

TEPAT matahari dipuncak kepala, empat puluh petani yang mengikuti acara syaembara melak paré dumasar papagon buhun yang digelar di Padepokan Sundamekar, Desa Situraja, Kecamatan Situraja, duduk bersila di depan sebuah lisung yang di dalamnya berisi beragam bibit padi, disekililing alat penumbuk padi tersebut terdapat pohon kihujan yang masih tersimpan dalam polybag.

Diambilnya momentum tepat 12-12-12 pukul 12.00 itu, menurut budayawan Situraja, Niko Asmara Sukarso, merupakan angka sakral yang dapat mengingatkan para petani saat ini bahwa leluhur Sunda tempo doeloe telah lebih dahulu mempraktekan apa yang disebut padi organik yang saat ini banyak dibicarakan. “Bisa jadi ini angka sakral, tapi bukan angka keramat. Karena setiap tanggal itu semuanya baik,” kata Akademisi Universitas Sebelas April (Unsap) Sumedang di sela kegiatan Rabu (12/12).

Meski mengandung kata syaembara acara yang melibatkan prajurit Yonif 301 Prabu Kian Santang yang menyumbangkan bibit pepohonan. Menurut Niko, bukan berarti dalam kegiatan itu akan memperebutkan hadiah. Pemenangnya, justru menurut Niko adalah mereka yang berhasil mendapatkan pengalaman dari praktek dilapangan dengan menanam padi menggunakan metoda leluhur. “Itu hanya sebagai motivasi, tak berbicara siapa yang akan jadi juara. Pada dasarnya kegiatan hari ini hanya berupa penyerahan benih dan mengiringi keberangkatan para peserta lomba syaembara. Sementara untuk menanam padinya itu diserahkan ke masing-masing peserta tergantung dari kondisi di lapangan, karena itu tak dapat ditentukan tanggal berapanya, ini hanya prosesisi pamiangan binih,” tambah Niko.

Anggota DPRD Sumedang, Ridwan Solihin.

Anggota DPRD Sumedang, Ridwan Solihin.

Di tempat yang sama anggota DPRD Sumedang, Ridwan Solihin, yang hadir dalam acara tersebut mengaku takjub dengan kegiatan yang diselenggarakan petani dan budayawan di Situraja tersebut. Ia pun tak menyangka, jika leluhur dahulu ternyata ilmu pengetahuannya secara tak langsung sudah maju. “Kegiatan ini memang perlu dilestarikan budaya bercocok tanam, bagaimana kita memperlakukan bibit padi. Kalau berangkat dari hati, hasilnya akan baik lagi,” ungkapnya.

Baca Juga  Guru Tidak Sekedar Pengajar, Tapi Juga Pelajar

Kegiatan tersebut juga dipandangn Ridwan, sebagai salahsatu pola pendekatan yang tepat untuk merubah paradigma berpikir para petani yang sekarang lebih condong menggunakan bahan kimia dalam bercocok tanam padi. “Pupuk yang digunakan di sini kan pupuk yang dari daun hijau-hijauan kalau istilah sekarang pupuk organic, artinya dengan kegiatan ini kita mengajak untuk kembali lagi ke alam. Kekuatan filosofisnya memang leluhur kita itu luar biasa,” ujar Ridwan dengan berdecak kagum.

Baca Juga  Listrik Mati 9 Jam, Warga Mengeluh

Menanggapi kegiatan di Padepokan Sundamekar tersebut, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pada Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Situraja, Agus Carman Amd, mengaku mendukung kegiatan tersebut. Apalagi sebutnya, petani yang ada di Kecamatan Situraja tersebut terus diberikan motivasi oleh BPP Situraja, agar menggunakan pupuk organic. “Kita terus memberikan motivasi pada para petani untuk beralih pada pupuk organic, mudah-mudahan dengan acara syaembara ini dapat termotivasi. Dari syaembara ini tak ditentukan pakai teknologi apa, justru petani harus kreatif dalam mencari teknologi bagaimana caranya meningkatkan produktifitas, tapi mengoptimalkan sumberdaya local yang ada,” kata Agus Carman.

Sementara itu menurut pelaku padi organik yang telah berhasil, Ali Rahmat (46), menuturkan pada dasarnya membuat padi orgnik tersebut mempunyai banyak tantangan. Ia mengaku sudah hampir 12 kali mendapatkan kendala, mulai dari anjloknya kuantitas padi. Namun hal itu tak membuat ia patah semangat, ia berprinsif jika satu kaum tak mau merubah nasib, maka Allah tak akan merubah nasib kaum tersebut. Perjuangannya sejak 2007 lalu akhirnya membuahkan hasil dengan keluarnya sertifikasi dari Balai Pertanian Pusat tahun 2012, jika padi organic yang dikembangkannya sudah lolos sertivikasi.(*)

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

FEATURE & OPINI

Bitter Sweet, Band Idola Kaula Muda
Emil Klaus Fuchs

FEATURE & OPINI

Emil Klaus Fuchs Agen Ganda Seorang Doktor Fisika

FEATURE & OPINI

Pentingnya Guru Yang Cerdas (Sebuah Tinjauan Islam)
Mulyadi dan Istrinya saat bekerja di pembuatan bata merah. Upah yang didapatkannya dari seribu bata Rp30 ribu, bisa dihasilkan dalam kurun waktu 2 hari. Saat ini usaha bata sedang sepi karena banyak pembangunan yang tersendat karena wabah Corona.

FEATURE & OPINI

Kisah Ojol Memilih Mudik Lantaran Nganggur dan Istri Hamil Belum Dapat Bantuan
WAKIL Wali Kota Bandung, Yana Mulyana yang sudah dinyatakan negatif Covid-19, menuturkan pengalamannya melawan Covid-19. FOTO HUMAS PEMKOT BANDUNG

FEATURE & OPINI

Perjuangan Yana Mulyana, Sang Penyintas Covid-19

FEATURE & OPINI

Kabupaten Sumedang dari masa ke masa
SUDAH sepuluh tahun lamanya pasangan suami istri, Agus dan Tati warga Lingkungan Warung Situ RT 02 RW 01 Kelurahan Kota Kulon Kecamatan Sumedang Selatan mencari bibit Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla King).

FEATURE & OPINI

Kisah Pasutri Hidup dari Mencari Bibit Mahoni Daun Lebar
WHO mengimbau pemuda di sekitar untuk memimpin, mengambil tindakan, dan melawan pandemi #Covid-19 demi masa depan yang lebih baik.

FEATURE & OPINI

Risiko Mahasiswa Terpapar Virus Tentang Rencana Pembukaan Kuliah Januari 2021