Politik

Bang Ara Minta Maaf, Gagal Tolak Kenaikan BBM

Bang Ara saat berdialog dengan pedagang di Puserba Jatinangor Resik.
Bang Ara saat berdialog dengan pedagang di Puserba Jatinangor Resik.
JATINANGOR – Kunjungan politisi muda PDI-Perjuangan, Maruarar Sirait, ke Pusat Perbelanjaan Serba Ada (Puserba) Jatinangor Resik di Kecamatan Jatinangor, menjadi ajang curhat para pedagang pasar. Rata-rata para pemilik kios itu mengeluh terkena imbas dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diberlakukan pemerintah Sabtu, pukul 00:00 (22/6/2013).
“Sekarang para pembeli sepi,” kata Arnita pedagang sayuran di Puserba Jatinangor Resik.
Ia mencontohkan harga cabe merah naik dari tadinya Rp 15 ribu ke angka Rp 25 ribu per-kilogram, tak hanya cabe merah harga kebutuhan pokok lainnya pun turut mengalami fluktuasi harga mulai dari Rp 5 ribu. Meski demikian, para pedagang di Puserba Jatinangor Resik, belum berani menaikan harga. Mereka beralasan jika menaikan harga, para pembeli malah kabur.
“Jadi kita belum bisa menaikan harga, kalau nanti dinaikan bisa-bisa pembeli malah kabur, padahal dari produsennya sudah pada naik. Kenaikan-kenaikan harga sebelumnya juga seperti itu,” tambahnya.
Kata Arnita, kenaikan harga ditingkat produsen sebenarnya sudah mereka rasakan sejak wacana akan naiknya harga BBM, dan makin terasa setelah adanya keputusan kenaikan BBM.
Menanggapi hal itu,pria yang kerap disapa Bang Ara itu hanya mampu menghela napas. Ia pun meminta maaf karena perjuangannya untuk tidak menaikan harga BBM, gagal. Meski ia mengaku telah berupaya sekuat tenaga untuk menentang kenaikan harga BBM.
“Saya mohon maaf, karena kemarin saya gagal menolak kenaikan BBM. PDI-Perjuangan melakukan penolakan itu karena takut seperti sekarang, baru naik sehari saja kenaikannya sudah ada yang mencapai 20-30 persen. Sementara pedagang tidak mau menaikan harga jual karena tidak laku. Ada yang beli, tadinya sekilo sekarang hanya seperempat, karena daya belinya turun. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kualitas kesehatan masyarakat juga patut diduga bakal berkurang, karena biasanya membelin sayur dan ayam sekilo sekarang mungkin hanya setengahnya saja. Setandar gizi buat anak-anak nantinya itu berpengaruh,” ujarnya.
Salahsatu alasan, kenapa pihaknya melakukan penolakan kenaikan BBM. Karena, kata Bang Ara, masih ada alternative lain yang justru dapat mendongkrak pendapatan Negara. “Dengan subsidi dikurangi, BBM Naik. Pemerintah dapat duit berapa sih, sekitar 50 Triliun. Kalau kita mengenakan bea batu bara saja, saya sudah bicara dengan menteri keuangan itu dapatnya 40 Triliun, kalau kita meningkatkan tarif cukai rokok, minuman al-kohol kita bisa dapat 10 Triliun, kalau kita melakukan penghematan. Contoh, perjalanan dinas. Audit BPK Tahun 2011, ada pemborosan 40 persen dari 20 Triliun, sama dengan 8 Triliun. Itu kita sudah mendapat 58 Triliun. Jadi bagaimana kebijakan itu jangan menyengsarakan rakyat, dan kita punya pilihan itu,” jelasnya. (**)

⚠️ Pemberitahuan: Isi komentar merupakan tanggung jawab penuh pemberi tanggapan. Redaksi Sumedang Online tidak bertanggung jawab atas isi atau dampak yang ditimbulkan dari komentar yang dikirimkan.

Tinggalkan Tanggapan

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak