Home / Tulisan Kang Surahman

Sabtu, 24 April 2010 - 03:01 WIB

APA MANFAATNYA WADUK JATIGEDE BUAT WARGA SUMEDANG ?

Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA

IR.H.SURAHMAN,M.TECH,M.ENG,MBA: Ir.H.Surahman,M.Tech,M.Eng,MBA


Bila dilihat dari letak geografis, wilayah Sumedang adalah merupakan daerah yang terletak jauh di atas permukaan laut (bukan dataran rendah), yang memiliki banyak pengunungan dan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga dengan demikian banyak aliran sungai didalamnya. Selain itu di wilayah Sumedang memiliki juga sungai besar seperti : Cipeles, Cilutung, Cimanuk dsb, dengan debit air yang cukup besar.

Daerah Aliran Sungai dari wilayah Sumedang dan sekitarnya itu pada saat ini sedang dibangun Waduk / Bendungan serbaguna (multi purposes) yang bernama “JATIGEDE”. Seperti dalam pidatonya Bupati Sumedang, Proyek Jatigede adalah rencana bendungan yang terbesar dan “terlama” di Asia Tenggara karena sudah hampir 40 tahun lebih masih belum selesai-selesai dibangunnya.

Bila dilihat dari segi teknis, pembangunan Waduk Jatigede itu sebenarnya sangat bergantung kepada Debit Air dan kualitas air sungai yang mengairinya. Maksud dari kualitas air tersebut adalah kandungan “sediment” di dalam air-nya, bila air sungainya keruh itu berarti kandungan lumpur di dalamnya tinggi, sehingga akan mudah mengakibatkan pendangkalan bendungan, dan demikian maka umur (life time) bendungan itu tidak akan lama.

Menurut penelitian para ahli dari Belanda (Delft-Netherlands), sebelum pembangunan Waduk Jatigede, Pemerintah seharusnya membuatkan program Reboisasi terlebih dulu di hulu DAS (daerah aliran sungai), seperti di hulu sungai Cimanuk (daerah Garut dan sekitarnya), sehingga air sungai Cimanuk tidak keruh / mengandung banyak lumpur. Namun nyatanya pada saat ini yang terjadi bila musim hujan, air sungai Cimanuk; sangat keruh kerena mangandung kandungan lumpur yang tinggi akibat erosi tanah dari pengundulan hutan / pembalakan liar di daerah hulu sungai.

Baca Juga  Kemungkinan Besar Pelantikan Bupati Sumedang Tetap 20 September 2018. Ini Alasannya

Jadi dengan demikian selama hal itu tidak dilakukan maka akan mengakibatkan terhadap bendungan / waduk tersebut nantinya, akan terjadi seperti di Waduk Jatiluhur, pada saat curah hujan tinggi waduk tersebut tidak dapat lagi menampung air sesuai rencana, sehingga terpaksa harus dibuang / dilimpaskan dan akibatnya terjadi banjir di daerah bawah (down-stream) bendungan, seperti yang terjadi banjir di daerah Karawang dan sekitarnya tempo hari.

Proyek Pembangunan Waduk Jatigede adalah merupakan proyek yang pendanaanya melibatkan investor dari LN (China), dengan luas genangannya sekitar 4.122 ha atau hampir meliputi 3 kecamatan (Darmaraja, Wado dan Cadasngampar) yang merupakan daerah subur, kini terpaksa harus direndam / menjadi daerah genangan, untuk tujuan penanggulangan banjir dan untuk mengairi Daerah Irigasi Rentang seluas 90.000 ha, guna mengairi sawah di Kab.Indramayu, Cirebon, Majalengka dan sekitarnya.

Adapun tujuan lainnya selain akan diperoleh Air Baku untuk dijual ke PDAM, selanjutkan akan dapat menghasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan install capacity sekitar 110 MW, yang akan dikelola oleh Perusahaan Litrik Negara (PLN).

Sehingga dengan adanya Waduk Jatigede yang akan menelan biaya sebesar Rp. 2,2 Triliun itu, sebenarnya tidak banyak yg dapat diperoleh bagi Masyarakat Sumedang, selain harus rela mengorbankan tanah miliknya dengan biaya penggantian yg sudah ditentukan oleh Pemerintah untuk pindah ke daerah sekitarnya atau bahkan disarankan untuk transmigrasi ke luar Jawa.

Baca Juga  Batik Sumedang tinggal Nama

Benefit / keuntungan lainnya yang mungkin akan dapat dirasakan oleh masyarakat Sumedang  adalah memanfaatkan Waduk / Bendungan untuk tujuan Wisata dan Perikanan-Jaring Terapung, yang mana itupun tentunya hanya akan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pemilik modal saja.

Sementara penggantian tunai yang diperoleh dari pemerintah pada saat ini belum tentu sama dengan membeli tanah di tempat lain yg serupa, karena pada saat ini telah terjadi inflasi yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan nilai Rupiah semakin merosot.   Dengan demikian tidaklah mengherankan bila pada saat ini di beberapa daerah timbul bermunculan “rumah hantu” yang tiada lain adalah rumah-rumah “fictive” belaka yang tujuannya hanya untuk memperolah biaya penggantian (ganti rugi) yang lebih besar.

Phenomena ini nampaknya timbul akibat dari ketidakpuasan masyarakat terhadap ganti rugi yang diberikan oleh Pemerintah, namun bagaimanapun toh masyarakat harus rela mengorbankan tanah miliknya demi mensukseskan program pembangunan itu.

Sehingga dengan demikian seharusnya Pemerintah Indonesia dan masyarakat di sebelah bawah bendungan (down-stream) yg telah diuntungkan dengan adanya Waduk Jatigede itu seperti Indramayu, Cirebon, Majalengka dan sekitarnya, seharusnya berterimakasih kepada Masyarakat Sumedang yang telah rela mengorbankan tanah milik / pencahariannya.

Besar harapannya semoga Pembangunan Waduk Jatigede di daerah Sumedang ini akan memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk masyarakat Sumedang, dan hal ini tentunya adalah merupakan  sumbangsih terbesar dari masyarakat Sumedang untuk Negara !

SELAMAT HARI JADI SUMEDANG KE-432.

 

Dubai, 22 April 2010

Salam Sono ti Urang Wado.

 

 

 

(Surahman Sunaryadiputra)

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

Tulisan Kang Surahman

APAKAH ZAKAT ITU?

Tulisan Kang Surahman

PERJALANAN KE LUAR ANGKASA

Tulisan Kang Surahman

Air Limbah Tahu Disulap jadi Gas

Tulisan Kang Surahman

KENAPA SUMEDANG TIDAK BANYAK KEMAJUAN?

Tulisan Kang Surahman

RAKTANDANG (Gerakan Tatangkalan Sumedang)

Tulisan Kang Surahman

Basa Sunda – Urang Sunda

Tulisan Kang Surahman

GUNEM CATUR: “Opat Pasagi Kalima Pancer”

Tulisan Kang Surahman

Memanfaatkan Cimanuk Hulu, Sebagai Pembangkit Listrik