Opini  

Kisah Yulia Bocah yang Mengalami Penghimpitan Otak

Yulia
Yulia

Kisah Yulia Bocah yang Mengalami Penghimpitan Otak

Berharap Uluran Tangan Dermawan

SUNGGUH memprihatinkan nasib Yulia. Gadis cilik ini mengalami kelainan yakni penghimpitan otak bagian belakang. Kondisinya memang memprihatinkan sehingga butuh uluran tangan dermawan. Berikut kisahnya.

Windu Mandela, Darmaraja

Rumah keluarga Karmila sangat sederhana. Ukurannya tak terlalu luas sekitar 4×6. Di sinilah anaknya mengalami kelainan yang memilukan. Ya,  Yulia (4) mengalami penghimpitan otak bagian belakang. Tidak ada aktifitas yang dapat dilakukan oleh Yulia, selain terbaring lemas di tempat tidur. Penghimpitan otak ini baru disadari oleh Karmila (36), Ibunya, ketika menginjak usia enam bulan, karena tidak ada perkembangan fisik sebagaimana anak-anak lainnya.

“Saya baru sadar kalau anak saya ini mengalami suatu hal yang aneh ketika usianya enam bulan. Biasanya, anak enam bulan itu sudah bisa bagaimanalah, kan ada perkembangannya, tapi anak saya tidak mengalami perkembangan tersebut. Lalu memeriksakan ke Dokter, dan ternyata anak saya ini mengalami penghimpitan otak,” ungkap Karmila, kepada Sumeks, Kamis (30/5).

Setelah divonis mengidap penghimpitan otak, Karmila membawa anaknya berobat ke berbagai rumah sakit dan dokter, namun hasilnya tidak ada perkembangan. Di samping itu, biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit, memerlukan biaya yang besar untuk dapat berobat ke rumah sakit. Awalnya, Karmila selalu membawa anaknya ini ke Rumah Sakit Pakuwon, juga sempat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin.

“Setelah diketahui ada penghimpitan otak belakang, saya membawa anak saya berkali-kali ke Pakuwon, RSUD Sumedang juga pernah. Dan terkahir mungkin ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, namun kata  dokter ini susah disembuhkan. Setelah itu saya memutuskan untuk merawatnya sendiri,” ujar Karmila.

Karmila mengatakan, terakhir berobat ke rumah sakit sekitar dua tahun yang lalu, ketika anaknya menginjak usia dua tahun. Hal tersebut terpaksa dilakukan, karena tidak adanya biaya yang cukup sebagai ongkos jalan ke rumah sakit yang ingin ditujunya. Perawatan yang dilakukannya hanyalah terapi ringan, seperti menggerak-gerakkan kaki dan tangan anaknya.

“Karena tidak cukupnya biaya untuk ke rumah sakit, kadang untuk makan juga kurang, saya memutuskan dari dua tahun yang lalu untuk merawat sendiri di rumah. Karena kata dokter bisa saja sembuh, tapi memerlukan waktu yang lama, dan dokter tersebut melakukan terapi saja di rumah. Kalau setiap terapi ke rumah sakit, tidak ada ongkosnya, dalam seminggu bisa dua hari terapinya,” kata Karmila.

Kondisi Yulia itu sendiri hanya dapat tergolek lemas, sebelum diberikan terapi tangan dan kakinya terasa kaku, namun semakin ke sini semakin ada perkembangan, dapat digerakkna. Karmila ingin sekali membawa anaknya kembali ke rumah sakit, guna dicek perkembangannya. Namun, diakui olehnya kurang biaya. Hingga saat ini pun, diakui olehnya tidak ada bantuan dari pemerintah dan dermawan lainnya.(*)

 

Disclaimer: Iklan atau Konten dalam kotak ini bukan dibuat oleh Redaksi, tetapi pihak ke-tiga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE Terima Tidak