BISNIS  

IPB Teliti Dinamika Sosial Ekonomi Usaha Pisang Di Jawa Barat

Peneliti Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB), Fasih Vidiastuti Sholihah, Dr. Rilus A. Kinseng dan Dr. Satyawan Sunito melakukan penelitian tentang dinamika sosial ekonomi usaha komoditas pisang skala rakyat di Jawa Barat.

Pisang, salah satu buah unggulan di Indonesia yang mendapat prioritas untuk dikembangkan secara intensif. Kabupaten Cianjur merupakan sentra produksi utama pisang di Jawa Barat yang masih bertumpu kepada pengembangan skala rakyat. Meningkatnya konsumsi pisang membuat pisang dijadikan sebagai komoditas yang dikembangkan untuk perbaikan ekonomi masyarakat pedesaan.

Dr. Rilus mengatakan, pengembangan pisang tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi, namun juga harus mempertimbangkan keberkelanjutannya. Kebijakan selama ini hanya terbatas pada peningkatan produksi yaitu pemberian modal usaha. Hal ini diperlukan formula untuk pengembangan pisang skala rakyat.

Penelitian ini dilakukan di Desa Talaga dan Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut Dr. Rilus, sejak awal masyarakat menanam pisang sebagai salah satu tanaman pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan rumah tangga. Masyarakat kedua desa tersebut menanam pisang dengan pengetahuan mengenai cara produksi yang didapatkan secara turun-temurun.

Dr. Rilus menyampaikan, pengembangan pisang terjadi secara berkelanjutan sejak dilaksanakannya program Primatani sebagai program pengembangan hortikultura nasional. Pelaksanaan pengembangan pisang merupakan respon dan permintaan masyarakat yang ingin mengembangkan pisang sebagai tanaman komersial setempat.

Dr. Rilus juga menuturkan, pengadaan program ini pun telah membuka pasar untuk bersentuhan langsung dengan para petani. Proses distribusi komoditas ini melalui tujuh tipe value chain (rantai nilai) yang menghubungkan petani sampai ke konsumen akhir. Tipe-tipe tersebut merupakan gambaran dari proses interaksi sosial yang terjadi pada satu desa secara keseluruhan.

“Kelembagaan yang ada pada sistem pertanian pisang yaitu produksi, penguasaan lahan, kelompok tani, hubungan kerja serta distribusi. Kelembagaan ini terbentuk atas dasar kerjasama dan saling menguntungkan antar aktor. Sehingga mempermudah kerja para aktor dalam setiap proses pada sistem pertanian pisang,” ujarnya.

Selanjutnya Dr. Rilus juga menambahkan, komoditas pisang memberikan sumbangan berupa modal finansial dan modal sosial. Petani menjadikan pisang sebagai aset yang dapat dijaminkan untuk mendapatkan pinjaman uang kepada para tengkulak. Modal sosial yang terbentuk menjadi pembuka jalan bagi tercapainya empat modal lainnya. Modal sosial yang terdapat di tempat penelitian ini adalah kelembagaan dari proses produksi hingga distribusi.(AT/ris)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin menerima update terbaru dari SUMEDANGONLINE OK TIDAK