Home / FEATURE & OPINI

Minggu, 12 April 2020 - 12:49 WIB

Kisah Pasutri Hidup dari Mencari Bibit Mahoni Daun Lebar



SUDAH sepuluh tahun lamanya pasangan suami istri, Agus dan Tati warga Lingkungan Warung Situ RT 02 RW 01 Kelurahan Kota Kulon Kecamatan Sumedang Selatan mencari bibit Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla King).

Ketika ditemui SUMEDANG ONLINE, mereka tengah mencari bibit tersebut di seputaran Taman Hutan Rakyat Palasari, Kecamatan Sumedang Selatan.

“Sudah sepuluh tahun berprofesi mencari bibit Mahoni Daun Lebar. Tapi ini merupakan tanaman musiman,” ujar Agus mengawali pembicaraan.

Bibit-bibit yang mereka dapatkan itu lantas di semai untuk pembibitan. Namun hal itu mereka lakukan tidak tiap hari, mereka baru mencari tanaman tersebut jika ada pesanan. Terkadang jika tak ada order Mahoni Daun Lebar, pria berumur 58 tahun itu mencari biji gmelina.

Baca Juga  Emil Klaus Fuchs Agen Ganda Seorang Doktor Fisika

“Sama semuanya juga untuk penghijauan. Sama itu juga musiman, jika musim semai baru ada order. Jika tidak ada mah tidak,” imbuhnya.

Biji-biji untuk penghijauan itu kemudian mereka semai dalam polybag, dengan komposisi setengah kompos dan tanah merah. Sehingga, lanjutnya, begitu akar tanaman mekar sudah ada unsur hara sebagai bahan makanan tanaman.

Setelah bibit tanaman tumbuh, nantinya diambil Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk Citanduy untuk tanaman penghijauan.

“Saya hanya disuruh oleh BPDAS Cimanuk Citanduy, kalau dulu itu namanya BPTH cuman sekarang kan sudah dibubarkan diganti jadi BPDAS,” jelasnya.

Baca Juga  Een Guru Inspiratif Bertemu Presiden SBY

Dia menyebutkan dalam sehari mendapat 3 ribu bibit, kemudian dibawa ke rumahnya untuk dilakukan penyemaian selama lebih kurang dua hari setelah itu baru diambil oleh BPDAS Cimanuk-Citanduy. Satu tanaman tersebut dijual dengan harga Rp30.

“Rp90 ribueun lumayan,” tandasnya yang mengelola sekitar 6 Ha lahan.

Kesulitan yang mereka hadapi justru ketika pesanan banyak, namun bibit sulit didapat. “Karena ini kan tanaman musiman, adanya setahun sekali. Tumbuhan ini tumbuh besarnya selama 25 tahun, ya bagi kami lumayan buat makan sehari hari dengan menjual bibit pohon ini. Dan memelihara bibit ini cukup sulit dalam pertumbuhannya apabila kita tidak teliti,” pungkas dia. *IWAN RAHMAT*

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

FEATURE & OPINI

Perjalanan Hidup Tukang Parkir di Jatinangor

FEATURE & OPINI

Bisakah Sumedang menjadi Benchmark Kampung Kreatif Nasional?

FEATURE & OPINI

Batu Dua dan masa depan Sumedang

FEATURE & OPINI

Kisah Anak Jalanan

FEATURE & OPINI

Mau tahu ulasan siapa Presiden RI ke Depan? Ini ulasannya

FEATURE & OPINI

Een Guru Inspiratif Bertemu Presiden SBY

FEATURE & OPINI

Langkah Maju Baznas Sumedang

FEATURE & OPINI

Sambel Kanjeng Pangeran, Maknyos