Home / KESEHATAN / Pilihan Redaksi

Kamis, 10 Desember 2020 - 15:47 WIB

Program Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Remaja Putri di Kabupaten Sumedang

 Pertemuan Kolaborasi Lintas Sektor Tingkat Kabupaten Program Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Remaja Putri di Kabupaten Sumedang

ISTIMEWA BISA: Pertemuan Kolaborasi Lintas Sektor Tingkat Kabupaten Program Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Remaja Putri di Kabupaten Sumedang


LAPORAN hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi anemia pada remaja putri di atas usia 15 tahun di tingkat nasional adalah 22,3 persen. Sementara menurut Baseline Survey yang dilakukan SEAFAST IPB dan Nutrition International melalui program Better Investment for Stunting Alleviation (BISA) pada Februari sampai Maret 2020, tingkat prevalensi anemia remaja putri sekolah yang lebih tinggi di empat kabupaten di mana BISA bekerja. Angka tersebut masing-masing adalah 68,3 persen dan 82,6 persen di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Sumedang. Sementara di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menunjukkan angka 72,2% dan 76,1% (Dewi, M. et al 2020).

Donatus K. Marut, Deputy Chief of Party Program BISA, menerangkan bahwa Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia melalui Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi Remaja Putri telah diterapkan secara nasional sejak Pedoman Nasional diperbarui pada 2016. Pedoman Nasional sendiri merekomendasikan agar remaja putri diberikan TTD seminggu sekali sepanjang tahun secara serentak di sekolah (Kemenkes, 2016).

”Namun, program Suplementasi Tablet Tambah Darah bagi remaja putri di sekolah dihadapkan pada berbagai tantangan. Mengutip hasil Baseline Survey program BISA di Sumedang, menunjukkan 75,9% remaja putri menerima setidaknya satu TTD pada 12 bulan ke belakang, namun hanya 38,6% remaja putri yang meminum TTD yang diterima tersebut,” kata Donatus dalam siaran persnya.

Karena alasan itulah maka sejak 2015, Nutrition International mendukung Kementerian Kesehatan dan seluruh pemangku kebijakan lewat pendampingan program Pencegahan Anemia dan Gizi Remaja bagi remaja putri di empat provinsi di Indonesia, seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur.

“Selama tiga tahun Nutrition International mendampingi pemerintah dalam menjalankan proyek percontohan di Kota Cimahi dan Kabupaten Purwakarta, keduanya di Provinsi Jawa Barat. Kami juga mendukung berbagai survei, studi, peningkatan kapasitas serta advokasi untuk membangun kerja sama antarsektor di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten termasuk sektor pendidikan dan agama,” kata Donatus.

Pada 2019, pendampingan pun dilanjutkan melalui Program BISA, di mana Nutrition International bekerjasama dengan Save the Children mendukung pemerintah dalam upaya penurunan tingkat stunting dan pencegahan anemia remaja putri secara khusus,di dua provinsi, yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pada tahap awal Program BISA mengadakan baseline survey bekerjasama dengan SEAFAST dari Institut Pertanian Bogor. Survei tersebut menilai pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja putri dan guru di sekolah terkait penyebab anemia dan manfaat suplementasi TTD.

Baca Juga  PP AMS Ingin Para Pemuda di Desa Melek Politik

“Sehingga kami merasa perlu untuk menyelenggarakan pertemuan kolaborasi lintas sektor tingkat kabupaten dalam implementasi program Suplementasi TTD pada remaja putri. Tujuannya untuk menguatkan kerja sama lintas sektor saat menjalankan dan memonitor program Suplementasi TTD remaja putri di kedua kabupaten,” kata Donatus.

Selain Nutrition International, dalam pertemuan pertama di Sumedang ini turut hadir lima narasumber sebagai perwakilan pemangku kebijakan di tingkat kabupaten. Pertemuan Kolaborasi Lintas Sektor dibuka secara resmi oleh dr. H. Hilman Taufik WS, M. Kes, Asisten Daerah Bidang Pembangunan, yang sekaligus memberikan arahan kebijakan merujuk pada surat edaran Bupati Sumedang nomor 440/1901/Kesra tentang Dukungan Kebijakan Pemberian Tablet Tambah Darah Pada Remaja Puteri dan Wanita Usia Subur. Hilman mengatakan bahwa penanggulangan anemia pada remaja putri tidak hanya menjadi tugas Dinas Kesehatan, tapi menjadi tugas dari berbagai pihak. Runtunan terjadinya anemia pada remaja putri, menurut Hilman, terjadi karena berbagai sebab, sehingga menjadi peran para pihak untuk mengidentifikasi masing-masing penyebab tersebut. “Program BISA telah membuka langkah awal bagi kita untuk menurunkan angka anemia di Kabupaten Sumedang. Semoga program ini dapat menjadi motivasi untuk mencapai target dalam pemberian Tablet Tambah Darah pada remaja putri dan wanita usia subur,” kata Hilman meyakinkan.

Hadir pula Dadang Sulaeman, S.Sos., M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, yang memaparkan analisis situasi penanggulangan anemia pada remaja putri melalui suplementasi TTD. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang sendiri sebenarnya sudah mulai memberi perhatian khusus pada pencegahan anemia sejak Pedoman dari Kementerian Kesehatan diterbitkan pada tahun 2016. Pada tahun 2018 Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang menyelenggarakan training of trainer (TOT) dibantu oleh Dinkes Provinsi, yang diikuti oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan Kesejahteraan Rakyat.

“Pada November 2019 kami mencanangkan program Minum TTD Rematri Tingkat Kabupaten sebagai puncak Hari Kesehatan Nasional 2019,” kata Kepala Dinas.

Kepala Dinas Kesehatan mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi sederet tantangan dalam menjalankan program ini. Di antaranya adalah tata kelola suplementasi TTD yang masih belum optimal, terutama dalam hal kapasitas sumber daya manusia, alokasi anggaran, dan konvergensi lintas sektor. Keterlibatan masyarakat juga dirasa masih kurang, seperti belum adanya dukungan dari sekolah dan orang tua.

“Koordinasi lintas program dan lintas sektor untuk mengkondisikan kegiatan minum TTD Rematri belum kuat, selain masih kurangnya kader kesehatan yang sebaya,” kata Kepala Dinas mengungkapkan. Pemberian TTD kepada remaja putri dengan menerapkan protokol pencegahan penularan COVID-19, juga menjadi tantangan bagi Dinas Kesehatan ketika menjalankan program ini.

Baca Juga  Polres dan Dandim 0610/Sumedang Lakukan Pemantauan Perayaan Misa Natal

Sementara perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang memaparkan dukungan dan kesanggupan dinas dalam menanggulangi anemia pada remaja putri melalui program suplementasi TTD di tingkat SMP. Dinas Pendidikan menerangkan bahwa jumlah SMP dalam program penanggulangan anemia pada remaja putri se-Kabupaten Sumedang adalah 122 SMP, yang mencakup 20 ribu lebih siswi.

“Pemberian TTD diberikan seminggu sekali sepanjang tahun dan dipantau dengan Kartu Pemantauan Minum TTD yang dibuat oleh guru UKS dibantu OSIS, Pramuka, PMR, dan Kader Kesehatan Remaja,” kata Ramdan Rosidi, Kepala Seksi Kesiswaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

Dalam pertemuan, yang diselenggarakan bersama Yayasan IBU, juga dipaparkan dukungan dan komitmen Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Wilayah VIII dalam menanggulangi anemia pada remaja putri di Kabupaten Sumedang. Dukungan tersebut berbentuk program suplementasi TTD di sekolah, khususnya di tingkat SMA dan SMK. Dalam pemaparannya ditekankan pula bahwa pelaksanaan program suplementasi TTD bagi remaja putri harus tepat sasaran, mengingat remaja putri yang berusia antara 12 sampai 15 tahun (remaja awal) dan 15 sampai 18 tahun (remaja pertengahan), mayoritas adalah siswa SMP/MTs dan SMA/K/MA/SLB. Cabang Dinas menjelaskan bahwa pertumbuhan pada remaja menyebabkan kebutuhan gizi meningkat. Khusus remaja putri, kebutuhan zat besi mereka lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki, untuk mengganti zat besi yang hilang saat menstruasi.

Perwakilan dari Kementerian Agama Kabupaten Sumedang ikut memberikan presentasi mengenai penanggulangan anemia pada remaja putri melalui program suplementasi TTD untuk siswi sekolah madrasah, khususnya di tingkat MTs dan MA. Berdasarkan Surat Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Nomor B.9346/Kw.10.2/5/PP.00/11/2020 tentang Program Suplementasi TTD bagi Remaja Putri pada Masa Pandemi COVID-19, maka tim pelaksana UKS/M telah menyepakati mekanisme penyaluran TTD sesuai dengan kondisi dan situasi. Tim UKS/M dan puskesmas sendiri telah memberikan edukasi tentang manfaat TTD bagi remaja putri. Tidak hanya itu, tim UKS/M dan puskesmas juga telah mendistribusikan TTD kepada remaja putri melalui kegiatan UKS dan Keputrian.

Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Sumedang juga mengungkapkan bahwa Kementerian Agama ingin agar program juga menyasar santri di pondok pesantren, khususnya pondok pesantren salafiyah yang tidak terafiliasi dengan sekolah formal. Hal tersebut dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari surat edaran Bupati dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang nomor 421.3/5922/Disdik/2020, yang ditujukan bagi kepala sekolah SMP se-Kabupaten Sumedang agar mendukung program pemberian TTD bagi siswi SMP. ***

Sumber Berita: SUMEDANG ONLINE

Share :

Baca Juga

Pilihan Redaksi

Danramil Cimanggung Tinjau Pergerakan Tanah di Sindanggalih

Pilihan Redaksi

[TMMD105] Warga Paseh Bantu TNI Kumpulkan Batu

Pilihan Redaksi

Ratusan Ormas di Sumedang Terdeteksi Tak Aktif

OLAHRAGA

Cuaca dan Pemain Pilar Cedera, Perses Optimistis Curi Point Lawan Persewangi

Pilihan Redaksi

Herman: Sumedang Tengah “Ngabret” Bidik Sektor Pariwisata

Pilihan Redaksi

BSMSS Hubungkan Kampung Cigintung dengan Jalan Wado-Sumedang

Pilihan Redaksi

Mahasiswi Unpad Sumedang Hampir Jadi Korban Perkosaan Oknum Sopir Angkot

Pilihan Redaksi

Pandemik Corona, Camat Cimalaka Sumedang Bentuk Satgas