Menu

Mode Gelap

FEATURE & OPINI · 10 Mar 2020 00:24 WIB ·

Alun-alun Sumedang di Masa Silam (Bagian 1)

REPORTER: ADMIN | EDITOR: ADMIN

PERTENGAHAN Maret 2020 ini, rencananya Alun-alun Sumedang yang  sudah direvitalisasi akan dibuka dan diresmikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil. Oleh karena itu, beberapa sentuhan-sentuhan akhir (finishing) dalam rangka pemeliharaan hasil revitalisasi semakin terlihat.

WHATSAPP IMAGE 2020-03-09 AT 19.51.32: PERTENGAHAN Maret 2020 ini, rencananya Alun-alun Sumedang yang sudah direvitalisasi akan dibuka dan diresmikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil. Oleh karena itu, beberapa sentuhan-sentuhan akhir (finishing) dalam rangka pemeliharaan hasil revitalisasi semakin terlihat.

PERTENGAHAN Maret 2020 ini, rencananya Alun-alun Sumedang yang  sudah direvitalisasi akan dibuka dan diresmikan secara langsung oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil. Oleh karena itu, beberapa sentuhan-sentuhan akhir (finishing) dalam rangka pemeliharaan hasil revitalisasi semakin terlihat.

Dalam Kamus Daring KBBI disebutkan, alun-alun merupakan tanah lapang yang luas di muka keraton atau di muka tempat kediaman resmi bupati. Salah satu ciri pusat pemerintahan, baik itu kerajaan maupun kabupaten, Alun-alun ditandai dengan hamparan lapangan rumput yang cukup luas dan sepasang pohon beringin di tengahnya. Keberadaannya dipisahkan oleh jalan akses masuk ke kantor kabupaten yang biasanya juga menjadi kediaman dinas bupati.

Menurut budayawan Sumedang Tatang Sobana, selain di depan rumah bupati, alun-alun juga menjadi halaman depan para penguasa tempo dulu, seperti raja, wadana, camat dan bahkan sampai kepala desa. Halaman luas di depan pendopo tempat kediamannya itu dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari, dalam ihwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan.

“Pada awalnya alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yuda) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan serta hiburan rakyat,” katanya.

Dikatakan lebih lanjut, secara historis perkembangan alun-alun dimulai sejak zaman Hindu-Budha, kemudian masa Kerajaan Mataram, lalu zaman masuknya pengaruh agama Islam, dilanjutkan zaman kehadiran kekuasaan penjajah Belanda di Nusantara dan zaman kemerdekaan.

Baca Juga  Bupati: Ajak Warga Cegah Virus Korona Masuk Sumedang

“Pada zaman Kerajaan Mataram , di alun-alun depan istana menjadi pusat administratif dan sosial budaya. Konsep Alun-alun pada masa masuknya Islam semakin berkembang sebagai ruang terbuka perluasan halaman masjid untuk menampung luapan jemaah. Pada masa Belanda berkuasa,  didirikan beberapa bangunan yang berfungsi untuk kepentingan mereka,” ucapnya.

Pembangunan Alun-alun Sumedang yang sekarang berlangsung pada saat pemerintahan Pangeran Suria Kusumah Adinata atau dikenal Pangeran Sugih (1836-1882). Hal itu berkaitan dengan pengembangan Kota Sumedang waktu itu. Pada 1850 beliau melakukan penataan dengan membangun beberapa gedung di sekitar Srimanganti, antara lain Gedong Bengkok (Gedung Negara), Masjid Agung dan Bumi Kaler.

Khusus di Alun-alun Sumedang, di tengah-tengahnya terdapat tugu Lingga yang didirikan untuk memperingati jasa dan kebesaran Pangeran Aria Soeria Atmadja dalam mensejahterahkan masyarakat Sumedang pada masa pemerintahannya sebagai Bupati Sumedang dari Tahun 1883-1919.

Lingga mengandung makna filosofis sebagai lambang kesejahteraan di bidang pertanian, perhutanan, perikanan, peternakan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, Lingga pun menjadi lambang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang.

 

Pola Macapat

Salah satu unsur peradaban di Indonesia asli adalah adanya Pola Macapat (Mocopat). Pola ini merupakan susunan induk pemerintahan atau ibu kota yang memiliki tanah lapang atau alun-alaun sebagai pusatnya yang dikelilingi oleh istana (keraton), tempat ibadah atau upacara agama, pasar dan penjara.

Baca Juga  Wilayah III Sumedang Gelar Kompetisi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional

Hal ini berlaku pula pada Alun-alun Sumedang yang dikelilingi oleh Gedung Negara di sebelah Selatan sebagai sebagai rumah dinas bupati, sebelah Barat Mesjid Agung, sebelah Utara Gedung DPRD yang dulunya sebagai pusat aktivitas warga, dan sebelah Timur Lembaga Pemasyarakatan.

Gedung Negara dibangun atas saran Asisten Residen Sumedang kepada Bupati Sumedang karena seringnya tamu-tamu dari Belanda yang berkunjung dan bermalam di Kota Sumedang. Termasuk Masjid Agung Sumedang dibangun oleh Pangeran Sugih. Semula masjid tersebut terletak di dekat Gedung Bengkok (Gedung Negara). Masjid Agung yang pertama dibangun oleh Pangeran Panembahan yang kemudian dipindahkan ke tempat yang sekarang.

Sesuai dengan fungsinya, Bupati H Dony Ahmad Munir berharap agar Alun-alun yang telah ditata kembali tersebut agar benar-benar menjadi wadah kegiatan masyarakat untuk berkumpul.

“Selain sebagai ruang terbuka kota, kita harapkan Alun-alun ini semakin terbuka untuk berkumpulnya masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, keberadaan pagar-pagar pembatas yang mengelilingi alun-alun dihilangkan dan kesannya menyatu dengan lingkungan sekitarnya, termasuk Mesjid Agung.

“Jadi di depan Gedung Negara ini nanti satu hamparan dengan Alun-alun. Mesjid Agung juga sama menjadi satu hamparan. Hal ini untuk mengembalikan filosofis Alun-alun sedari dulu,” tuturnya. *Humas Setda Sumedang*

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 123 kali

Baca Lainnya

Buka Festival Kopi Sumedang, Wabup: Bidik Ekspor ke Mancanegara

26 Oktober 2021 - 17:39 WIB

Wakil Bupati Sumedang, H. Erwan Setiawan berharap kopi Sumedang makin terkenal bahkan bisa ekspor ke Manca Negara. Hal itu dikatakan Erwan saat membuka Festival Sumedang ke-3 di Kawasan Induk Pusat Pemerintahan Setda Sumedang. Selasa, 26 Oktober 2021.

Sumedang Gelar Pilkades Ditengah Pandemi Covid-19, Wabup Sumedang: Terapkan Protokol Kesehatan Agar Tidak Terjadi Cluster Baru

25 Oktober 2021 - 14:13 WIB

Wakil Bupati Sumedang, H Erwan Setiawan mengingatkan berbagai pihak untuk tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak 2021, 27 Oktober 2021 saat Apel Kesiapan Pengamanan Tahap Pemungutan Suara pada Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Tahun 2021 Tingkat Kabupaten Sumedang di Alun-Alun Sumedang. Senin, 25 Oktober 2021.

750 Personel Polisi Siap Amankan Pilkades Serentak di Kabupaten Sumedang

25 Oktober 2021 - 14:01 WIB

Dari sebanyak 1.200 personel dari Polres Sumedang, 750 diantaranya bakal dikerahkan untuk pengamanan pelaksanaan pemilihan kepala desa serentak (Pilkades serentak) di Kabupaten Sumedang pada 27 Oktober 2021.

Naik Singa Depok Desa Tarunajaya, Wabup Erwan Inginkan Kaulinan Barudak Jadi Event Olimpiade

21 Oktober 2021 - 17:40 WIB

Wakil Bupati Sumedang, H Erwan Setiawan saat menaiki singa depok dari Desa Tarunajaya, Kecamatan Darmaraja pada pagelaran Sadinten Ulin di Sagara Munjul yang menampilkan berbagai kaulinan barudak tempo dulu.

Kenalkan Kaulinan Barudak Tempo Dulu, Desa Sukamenak Gelar Sadinten Ulin di Sagara Munjul

21 Oktober 2021 - 17:12 WIB

Permainan Silat dari Desa Darmajaya, Kecamatan Darmaraja di tampilkan dalam pagelaran Sadinten Ulin di Sagara. Kamis, 21 Oktober 2021.

Manager Sepak Bola PON Jabar Bangga Timnya Lolos 6 Besar

3 Oktober 2021 - 22:14 WIB

Tim Jawa Barat lolos ke babak 6 besar Sepak bola Pon Papua setelah mengalahkan Maluku Utara dengan skor 3-1 di Stadion Mahacandra, Kota Jayapura, Minggu.
Trending di OLAHRAGA