Oleh: Bayu Kresna Nugraha
Adanya tradisi mudik diakibatkan dari banyaknya penduduk suatu daerah yang hijrah ke daerah lain dengan maksud untuk bekerja ataupun melanjutkan pendidikan. Untuk para karyawan baik karyawan swasta, BUMN atau Pegawai Negri biasanya mendapat bonus hari raya atau tunjangan hari raya.
Bonus atau tunjangan ini merupakan pendapatan tambahan pegawai diluar gaji atau pendapatan pokok yang salah satunya digunakan untuk berbelanja kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan menjelang hari raya, yang besarnya tergantung dari kebijakan instansi dimana kita bekerja. Namun, terkadang kita agak kurang bijak dalam menggunakan bonus ini, mentang-mentang bonus, kita membelanjakannya dengan rasa tanpa beban, ambil ini ambil itu merasa bahwa kita megang dan punya uang cash yang tidak sedikit. Hal seperti itu amat sangat rawan terjadi pada karyawan atau pegawai muda yang masih single dan biasanya baru mendapat bonus.
“Kemana saja sebaiknya kita mengeluarkan pendapatan kita?”, kenapa pertanyaan seperti itu kita bingungkan bahkan kenapa harus dipikkan, toh kita sendiri yang bekerja untuk mendapatkan uang tersebut, ya kita sendiri yang akan menikmatinya.
Hal seperti itu juga yang membuat kita tidak bijak menggunakan pendapatan. Nah alangkah baiknya kita meng-efisien-kan setiap pengeluaran yang kita lakukan dari pendapatan seperti itu. Kita bisa menganggarkan sendiri keperluan kita. Ingat, hal yang paling utama adalah zakat. Setelah zakat, secara sederhana kita bisa membuat daftar apa yang kita butuhkan untuk keperluan hari raya serta mana yang kita inginkan, ingat, kebutuhan dan keinginan itu berbeda, kebutuhan harus diutamakan sedangkan keinginan bisa ditunda. Setelah memisahkan daftar antara kebutuhan dan keinginan, kita juga harus bisa menyisihkan pendapatan untuk ditabung dan untuk diinvestasikan. Besaran persentase untuk kebutuhan, tabungan dan investasi bisa kita tentukan sendiri sesuai dengan keadaan , karna persentase untuk zakat sudah memiliki porsi tersendiri.
Setelah kita memilah dan memisahkan “saluran” penggunaan pendapatan dan bonus untuk hari raya, jangan lupa kita juga harus mempertimbangkan dan menyiapkan biaya tak terduga, terutama bagi yang bekerja diluar kota, ongkos mudik juga menjadi “kandidat” saluran penggunaan pendapatan. Belum lagi nanti pas hari raya tiba, saudara-saudara kita ynag tahu bahwa kita sudah bekerja, biasanya “minta dijajanin”, belum lagi kita bagi-bagi untuk sepupu-sepupu atau keponakan-keponakan kita yang masih kecil. Makadari itu, alangkah baiknya kita bisa mengatur pengeluaran dari hasil pendapat pokok+bonus untuk hari raya kita. Ingat, utamakan dulu untuk zakat, kebutuhan pokok, tabungan dan investasi lalu selanjutnya hal-hal lain yang bisa kita atur sendiri jumlah ata besaran pengeluarannya.
**Bayu Kresna Nugraha, Mahasiswa tingkat akhir Program Sarjana Alih Jenis Manajemen (Ekstensi Manajemen), Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Opini ini ditulis untuk menumbuhkan kesadaran untuk bijak dalam memanage atau mengatur pendapatan dan keuangan agar kita terhindar dari budaya konsumtif.









